Opini Direktur PNM Pada Wisuda Ahli Madya XIV Tahun Akademik 2018-2019

Menyiapkan Generasi Milenial di Era Revolusi Industri 4.0
Oleh:
M. Fajar Subkhan, S.T., M.T.
Direktur Politeknik Negeri Madiun

Indonesia sedang memasuki era baru demografi yang lebih dikenal sebagai era bonus demografi yang terjadi akibat berubahnya struktur umur penduduk. Pada kondisi bonus demografi, fenomena struktur penduduk sangat menguntungkan dari sisi pembangunan karena jumlah penduduk usia produktif sangat besar, sedang proporsi usia muda sudah semakin kecil dan proporsi usia lanjut belum banyak. Menurut pernyataan dari banyak ahli, bonus demografi bisa menjadi peluang untuk mempercepat percepatan pertumbuhan ekonomi suatu negara, namun juga dapat berubah menjadi ancaman jika tidak dipersiapkan dengan baik.
Sumber daya manusia sangat berpengaruh terhadap pembangunan ekonomi suatu bangsa, khususnya Indonesia sebagai negara berkembang, dan modal dasar pembangunan adalah sumber daya manusia yang berkualitas. Bonus demografi pada dasarnya tidak terlepas dari generasi milenial. Mengutip data Badan Pusat Statistik, diperkirakan sumbangan generasi milenial Indonesia dalam membentuk struktur jumlah penduduk usia produktif tergolong cukup tinggi, karena sekitar 50,36 persen dari jumlah penduduk usia produktif pada dasarnya merupakan generasi milenial. Jadi ada sekitar 81 juta penduduk yang termasuk dalam generasi milenial yang berarti hampir sekitar 32% dari total populasi di Indonesia. Sebagai penduduk terbesar, tentunya generasi milenial akan berperan besar pada era bonus demografi. Generasi ini yang akan memegang kendali atas roda pembangunan khususnya di bidang perekonomian yang diharapkan akan mampu membawa bangsa Indonesia menuju ke arah pembangunan yang lebih maju dan dinamis. Pertanyaan yang timbul adalah mampukah kelompok milenial ini membangun dan meneruskan masa depan bangsa ini? Berbagai tantangan sudah hadir didepan mata, pertanyaan berikutnya sudah siapkah Perguruan Tinggi menyiapkan generasi penerus bangsa di era revolusi Industri 4.0 dan persaingan global.
Pesatnya perkembangan teknologi di era revolusi industri 4.0 sangat berpengaruh terhadap karakteristik pekerjaan yang ada saat ini, dimana keterampilan dan kompetensi menjadi hal pokok yang perlu diperhatikan. Karena di era revolusi industri 4.0 integrasi pemanfaatan teknologi serta internet yang begitu canggih dan masif juga sangat mempengaruhi adanya perubahan perilaku dunia usaha dan dunia industri, perilaku masyarakat dan konsumen pada umumnya. Karakteristik di era revolusi industri tersebut meliputi digitalisasi, optimation dan customization produksi, otomasi dan adaptasi, interaksi antara manusia dengan mesin, value added services and business, automatic data exchange and communication, serta penggunaan teknologi informasi. Oleh karena itu, dunia pendidikan dan industri harus mampu mengembangkan strategi transformasi industri dengan mempertimbangkan sektor sumber daya manusia yang memiliki kompetensi di bidangnya.
Perkembangan era revolusi industri 4.0 akan berpotensi menurunkan kualitas pendidikan dan sosial budaya. Kondisi ini menuntut generasi millenial untuk mampu membawa bangsa menghadapi revolusi industri 4.0 dengan berbagai kemampuan, salah satunya yaitu inovasi dan kreativitas. Generasi muda yang akan mewarisi bangsa ini ke depan dituntut untuk lebih berkontribusi nyata menghadapi gelombang revolusi industri, untuk siap bersaing tanpa harus menanggalkan identitas dan jati diri budaya kita sebagai bangsa Indonesia. Dalam menghadapi gelombang revolusi industri ini, lulusan perguruan tinggi tidak cukup hanya bermodalkan Indeks Prestasi Komulatif (IPK) tinggi. Kecerdasan emosional menjadi lebih penting untuk menyongsong perkembangan zaman yang serba digital saat ini. Keunggulan IPK itu memang penting, akan tetapi IPK yang tinggi itu juga harus dibekali dengan kemampuan lain seperti communication skill, literasi teknologi informasi, kepemimpinan, dan critical thinking.
Gelombang revolusi industri 4.0 ini, akan mengancam generasi milenial tanah air jika tidak diberikan bekal untuk dapat menghadapinya. Kondisi ini membawa konsekuensi mahasiswa dan lulusan perguruan tinggi harus memiliki kompetensi tertentu. Setidaknya, ada empat kompetensi yang penting diantaranya mampu berpikir kritis dan menyelesaikan masalah (critical thinking and problem solving, kreatif dan inovatif (creativity and innovation), komunikasi (communication), dan kerjasama (collaboration). Selain itu, dalam menyiapkan lulusan yang unggul dan profesional, perguruan tinggi diharapkan mampu membangun kampusnya untuk mengembangkan infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi melalui cyber university, mengubah kurikulum berbasis teknologi, membekali sertifikasi kompetensi, membangun kolaborasi dengan industri, dan menciptakan semangat kewirausahaan. Perguruan tinggi tidak hanya dituntut menghasilkan mahasiswa siap kerja, tapi juga melahirkan lulusan yang mampu membuka lapangan kerja. Maka disinilah pentingnya membekali mahasiswa dengan kemampuan enterpreneurship dan inovasi.
Perubahan kurikulum yang diajarkan di perguruan tinggi juga harus disesuaikan untuk lebih mengedepankan penguasaan mahasiswa atas berbagai soft skills yang bertumpu pada kemampuan dalam komunikasi yang efektif, kemampuan mengelola perubahan, serta inovasi dan enterpreneurship. Soft skills yang diajarkan tersebut diharapkan akan membekali kemampuan para alumni perguruan tinggi untuk mampu beradaptasi dengan lingkungan pekerjaan dan segala perubahan dan tantangan yang begitu cepat. Mereka harus dipersiapkan agar mampu bekerja dan berkomunikasi secara efektif, juga berpikir secara kritis. Kurikulum yang diterapkan juga harus dirancang dengan menyesuaikan pada perkembangan era digital hingga beberapa tahun kedepan. Dengan demikian, diharapkan apa yang diajarkan juga akan tetap relevan untuk diaplikasikan di masa ketika digitalisasi semakin mempengaruhi berbagai sisi kehidupan.
Sebagai penutup, kelompok milenial memegang peran yang sangat strategis dalam menentukan masa depan bangsa dan negara ini khususnya di era bonus demografi. Kelompok milenial ini kedepan diharapkan akan menjadi kekuatan moral, kontrol sosial dan agen perubahan untuk masa depan Indonesia yang lebih baik khususnya menghadapi perubahan yang begitu cepat. Oleh sebab itu perlu ada upaya membangun gerakan literasi yang lebih proaktif dan produktif terhadap generasi ini. Oleh karenanya untuk menjawab tantangan tersebut, perguruan tinggi harus pula berubah. Semua pemangku kepentingan di perguruan tinggi harus mau berubah. Dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa harus mau berubah. Semua pihak harus berupaya meningkatkan kompetensi diri, terus belajar, dan menyesuaikan dengan kebutuhan era ini. Jangan biarkan dan sia-siakan kesempatan emas bonus demografi lewat begitu saja dan justru menjadi beban dan ancaman bagi bangsa dan negara ini.