PNM Mengikuti 4 Divisi Kontes Robot Indonesia (KRI) 2017

Sabtu, (06/05/2017) GOR Pertamina berdiri gagah sembari tersenyum menyambut para supporter Kontes Robot Indonesia 2017 yang telah datang dari berbagai Perguruan Tinggi wilayah Jawa Timur dan Bali. KRI tahun ini diselenggarakan di Malang, tepatnya Universitas Brawijaya yang menjadi tuan rumah acara tahunan yang dipelopori Kemenristekdikti. Acara yang berlangsung dari tanggal 4-6 Mei 2017 ini melangsungkan puncak acara yaitu pertandingan antar tim robot pada hari ketiga setelah regitrasi ulang pada hari pertama dan trail pada hari kedua. Diakui Ketua Pelaksana KRI 2017, Dr. M. Azis Muslim bahwa persiapan lomba tahun ini terus berinovasi dari tahun sebelumnya, meski peluang tim robot Universitas Brawijaya sendiri tidak dapat diprediksi dan hasil sepenuhnya diserahkan selama berjalannya pertandingan. “Dari sekian tahun, inovasi robot sudah semakin baik. Bukan hanya dari segi robotika, tapi juga estetika. Diharapkan kedepannya robot tidak hanya sebagai pembelajaran tekonologi tapi juga lingkungan. Semisal robot pengambil sampah”, tambah Rektor UB, Prof. Dr. Ir. Mohammad Bisri, MS.

PNM sendiri mengirimkan empat divisi tim, yakni untuk Kontes Robot Seni Tari Indonesia (KRSTI), Kontes Robot Pemadam Api Indonesia (KRPAI) Berkaki, Kontes Robot Sepak Bola Indonesia (KRSBI) Beroda, dan Kontes Robot ABU Indonesia (KRAI).

Pada hari sabtu, acara dibuka oleh MC yang mengantarkan Tari Topeng sebagai tari persembahan. Kemudian pembacaan Al-Quran oleh salah satu mahasiswa Universitas Brawijaya. Kemudian pemberian sambutan dari Rektor UB, Prof. Dr. Ir. Mohammad Bisri, MS dilanjutkan Kasubdit Penalaran dan Kreatifitas Kemenristekdikti oleh Dr. Widyo Winarso dan terakhir Ketua Pelaksana KRI 2017 oleh Dr. M. Azis Muslim. Setelah pemberian sambutan, dilanjutkan dengan penabuhan gong sebagai tanda pembukaan pertandingan. Lalu, lomba dimulai satu persatu divisi robot sesuai jadwal.
Hingga pertandingan selesai, didapat juara KRI 2017 Regional IV di Universitas Brawijaya sbb:

KRAI (Kontes Robot ABU Robocon Indonesia)
1. Politeknik Elektronika Negeri Surabaya - Surabaya
2. Institut Teknologi Sepuluh Nopember - Surabaya
3. Universitas Brawijaya - Malang
Harapan: Universitas Negeri Surabaya -  Surabaya
Best Design: Universitas Jember – Jember
Best Strategy: Politeknik Elektronika Negeri Surabaya – Surabaya

KRPAI (Kontes Robot Pemadam Api Indonesia)
1. Universitas Muhammadiyah Malang - Malang
2. Universitas Brawijaya - Malang
3. Institut Teknologi Sepuluh Nopember - Surabaya
Harapan: Politeknik Elektronika Negeri Surabaya – Surabaya
Best Design: Institut Teknologi Sepuluh Nopember - Surabaya
Best Strategy: Universitas Brawijaya – Malang

KRSBI (Kontes Robot Sepak Bola Indonesia) beroda
1. Politeknik Elektronika Negeri Surabaya – Surabaya
2. Universitas Brawijaya - Malang
3. Institut Teknologi Sepuluh Nopember - Surabaya
Harapan: Politeknik Negeri Jember  - Jember
Best Design: Institut Teknologi Sepuluh Nopember - Surabay
Best Strategy: Universitas Trunojoyo - Madura

KRSTI (Kontes Robot Seni Tari Indonesia)
1. Universitas Brawijaya - Malang
2. Politeknik Elektronika Negeri Surabaya – Surabaya
3. Institut Teknologi Sepuluh Nopember - Surabaya
Harapan: Universitas Negeri Surabaya -  Surabaya
Best Design: Politeknik Elektronika Negeri Surabaya – Surabaya

Adapun peringkat tiap divisi robot dari Politeknik Negeri madiun sbb:
1.KRAI : Peringkat 8 dari 19 tim
2.KRPAI : Peringkat 18 dari 34 tim
3.KRSBI (beroda) : Peringkat 10 besar semi final
4.KRSTI : peringkat 10 dari 13 tim

Acara yang berlangsung hingga malam tersebut, berjalan lancar hingga akhir acara. Meski masih memiliki beberapa kekurangan dalam pelaksanaannya. Gemuruh nyanyian penyemangat dari para supporter yang datang untuk mendukung Perguruan Tinggi masing-masing tak surut sedikitpun meski hari telah gelap. “Untuk penontonnya harusnya ada hiburannya biar waktu nunggu istirahat gini ada nyanyiannya atau apalah gitu. Jadi gak Cuma nunggu lomba aja”, tutur Amalia Fitrian, salah satu supporter dari Politeknik Negeri Jember disela menunggu waktu istirahat dengan wajah lesu melihat hasil pertandingan yang telah berlangsung.

Diakui pula oleh salah satu peserta KRI 2017, Almira Nindya dari PNM bahwa terjadi kurang meratanya komunikasi antar panitia. Sehingga untuk mendapatkan suatu informasi, panitia harus bertanya ke panitia lainnya untuk mendapatkan jawaban dari informasi tersebut. Menyebabkan sedikit terhambatnya kinerja panitia. Meski diakui pula penyelenggaraan kontes tahun ini lebih tegas dari tahun sebelumnya.

Berdasarkan penuturan Dr. Widyo Winarso, “Proses dalam pembuatan robot KRI ini diharapkan dapat membantu kurikulum yang diajarkan di Perguruan Tinggi. Sehingga menunjang mahasiswa untuk mendapatkan pelajaran diluar dari SKS yang telah ditetapkan kampus. Membuktikan bahwa mahasiswa yang aktif, tidak melulu harus molor kuliah”. (G-Plasma)