Politeknik Negeri Madiun siap menyongsong era Revolusi Industri 4.0

Madiun- Para Dosen dan Mahasiswa Politeknik Negeri Madiun mendapat kesempatan emas untuk menyimak secara tuntas dan jelas sajian materi tentang “peluang dan tantangan pendidikan vokasi dalam menyongsong era revolusi industri 4.0” yang disampaikan secara langsung oleh Menristekdikti (Prof. H. Mohamad Nasir, Ph.D., Ak.). Acara ini dikemas dalam bentuk Kuliah Umum yang bertempat di auditorium Gd. Budi Tjahjono Kampus 1 PNM pada hari Rabu, 9 Januari 2019. Diskusi berjalan sangat baik dengan antusiasme peserta yang tinggi sehingga waktu 2 jam berlalu tanpa terasa. Selain memberikan materi kuliah, Menristekdikti juga berkesempatan meninjau secara langsung beberapa laboratorium dan bengkel yang dimiliki oleh PNM. Rasa puas tampak jelas dirasakan oleh Menristekdikti demi melihat perkembangan yang sangat pesat dari segi fisik sarpras yang dimiliki maupun prestasi/ capaian yang diperoleh PNM sebagai sebuah institusi yang tergolong masih baru (PTNB). Beberapa informasi penting yang disampaikan oleh Menristekditi dalam kuliah umum diantaranya terangkum sebagai berikut; Otomatisasi, globalisasi, dan peningkatan keterampilan telah mendorong restrukturisasi ekonomi besar-besaran. Dua dari tiga pekerjaan entry-level dalam ekonomi industri membutuhkan lulusan pendidikan tinggi. Hal ini mendorong restrukturisasi ekonomi besar-besaran. Peran perguruan tinggi vokasi makin penting dalam mencetak SDM Terampil (skillful), Unggul, Berdaya Saing Tinggi, Kompetitif, Inovatif, WNI yang bertanggung jawab. Selanjutnya diharapkan Politeknik terus melaksanakan proses inovasi produk melalui inkubasi dan pembelajaran berbasis industri.

Tentu saja sangat diperlukan strategi yang baik dalam mencetak lulusan Politeknik yang berkualitas Era Industri 4.0, yang salah satunya bisa dilakukan dengan memperkuat kerjasama antara Politeknik dengan Industri. Hal ini penting dilakukan karena lulusan perguruan tinggi harus siap bekerja (bukan siap di training) pada posisi pekerjaan yang baru yang dibuktikan dan dilengkapi dengan berbagai sertifikat kompetensi yang dimiliki. Selanjutnya, kegiatan ekstra kurikuler untuk pengembangan kepemimpinan dan bekerja dalam tim juga musti terus dikembangkan. Selain itu, kompetensi entrepreneurial diwujudkan melalui pendidikan kewirausahaan dan melatih mahasiswa dalam menumbuhkan jiwa kewirausahaan melalui karya kreatif dan inovatif untuk menciptakan nilai tambah. Tidak kalah pentingnya proses pendidikan di Politeknik seharusnya mendukung reskilling dan upskilling dalam perspektif pembelajar sepanjang hayat (life-long learner), sehingga lulusan mampu fleksibel dan adaptif terhadap perubahan kebutuhan pasar kerja.

Satu lagi hal penting yang menjadi obsesi Menristekdikti yang disampaikan kepada audiens yaitu ingin menjadikan PNM sebagai model perguruan tinggi perkeretaapian pertama di indonesia. Hal ini bukan hal yang mustahil mengingat PNM sudah memulai kerjasama dengan PT INKA Madiun khususnya dalam proses pembelajaran pada Prodi DIV Perkeretaapian. Di masa mendatang bentuk kerjasama antara pihak Industri dengan pihak Kampus ini akan terus didorong dan di kembangkan oleh Ristekdikti pada semua Politeknik di Indonesia. Begitu mampat dan pentingnya informasi yang disampaikan oleh Menristekdikti dalam kuliah umum ini menjadi bahan pertimbangan yang sangat berharga bagi segenap civitas akademika PNM dalam upaya perbaikan secara berkelanjutan terhadap proses pembelajaran yang dilaksanakan guna mencetak lulusan yang memiliki kompetensi handal yang mampu memenangkan kompetisi di era Revolusi Industri 4.0. (PIP/Humas PNM/10/01/2019).