Press Release Launching SBMPN Tahun 2020

Madiun- Secara resmi pelaksanaan kegiatan Seleksi Bersama Masuk Politeknik Negeri (SBMPN) 2020 dibuka oleh Bapak Wikan Sakarinto, M.Sc., Ph.D., selaku Dirjen Vokasi (Diksi) pada Selasa, 19 Mei 2020. Acara pembukaan (Launching SBMPN 2020) dilaksanakan secara Daring dengan menggunakan media Webex yang diikuti oleh para Direktur Politeknik / Poli Tani se-Indonesia, para Wakil Direktur Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama, Para Humas Politeknik dan juga dari beberapa unsur Media Informasi. Diskusi berjalan secara apik dan runtut dipandu secara piawai oleh Bapak Mohamad Fajar Subkhan, S.T., M.T. (Direktur Politeknik Negeri Madiun). Acara yang terbagi menjadi dua sesi dengan diikuti diskusi interaktif ini berjalan lancar sekitar satu jam tiga puluh menit.


Dimulai dengan sambutan Ketua FPDNI, Bapak Dr. Eng Zainal Arief, S.T., M.T. yang melaporkan secara sekilas tiga jalur seleksi dengan sebaran dan kuota jumlah mahasiswa yang akan diterima Politeknik. Dalam sambutannya, beliau berharap acara pembukaan SBMPN ini lebih digaungkan secara nasional untuk memperoleh atensi lebih kuat dan luas dari segenap lapisan masyarakat.


Pada sesi pertama, Dirjen Diksi Bapak Wikan Sakarinto, M.Sc., Ph.D. menegaskan bahwa jalur seleksi SBMPN merupakan sistem penerimaan mahasiswa baru bagi para lulusan SMA, SMK, MA dan Kejar Paket C tahun 2018-2020 untuk masuk Politeknik Negeri secara serempak se-Indonesia. Selanjutnya, beliau mewanti-wanti kepada para calon mahasiswa baru dalam untuk lebih bijak dalam memilih program studi kuliah. Seharusnya pilihan tidak berdasarkan ikut-ikutan / euforia ataupun paksaan namun lebih mendasarkan kepada ‘passion’ minat dan bakat calon mahasiswa yang bersangkutan. Sehingga nantinya kelak di kemudian hari mereka telah menyelesaikan pendidikan dan memasuki dunia kerja, mereka akan melalui hari hari meniti karirnya dengan bahagia. Bagi mereka yang memiliki minat dalam analitical dan pengembangan keilmuan bisa mengambil program S-1 namun bagi mereka yang memiliki passion dalam Hands on / Practical dan penerapan ilmu pengetahuan seyogyanya memilih program studi Terapan / Vokasi. Apalagi kesempatan untuk belajar sepanjang hayat juga sudah tersedia di jalur pendidikan terapan bahkan hingga jenjang S-3.


Pada sambutan selanjutnya yang disampaikan Dr. Ir. Agus Indarjo, M.Phil. selaku Direktur Dikti Vokasi Profesi menambahkan tentang tren yang terjadi di masyarakat bahwa jumlah peminat pendidikan vokasi meningkat secara signifikan. Beliau menengarai hal ini terdampak dari era Revolusi Industri 4.0 yang memposisikan pendidikan vokasi secara strategis. Trend ini merupakan Opportunity bagi para penyelenggara pendidikan vokasi untuk mengambil kesempatan, namun beliau menambahkan Weakness akan kurangnya Publikasi, Sosialisasi dan Promosi tentang pendidikan vokasi.


Pada sesi kedua, Dirjen Diksi menekankan pentingnya untuk Mengawinkan / Menikahkan antara Pendidikan dengan Industri. Keduanya musti blended dan Link and Match tidak hanya pada tataran ucapan dan MoU namun juga pada tataran praktis dalam pelaksanaan. Beliau mengilustrasikan ibarat mencetak lulusan sebagai proses memasak makanan, maka perlu keterlibatan kedua belah pihak (Pendidikan dan Industri) untuk;
1. Menentukan pengen masak apa ? (merumuskan resep / kurikulum bersama)
2. Ayo kita masak bersama. (para expert / praktisi ikut turun terlibat mengajar)
3. Mari kita cicipi masakannya. (dengan memberi kesempatan magang bagi mahasiswa)
4. Dicap / Label bersama (mahasiswa mendapat Ijazah sekaligus Sertifikat Kompetensi)


Selanjutnya beliau juga mencontohkan beberapa negara maju sebagai raw model pendidikan vokasi yang bekerjasama dengan Industri seperti halnya di Jerman, Jepang, Korea. Betapa pendidkan dan industri sudah berjalan bersama dalam menyiapkan dan membangun SDM sebagai pilar pembangunan bangsa.


Diskusi semakin lengkap dengan uraian yang disampaikan Bapak Dr. Ir. Bakrun, M.M., selaku Direktur Mitras DUDI terkait peningkatan kerjasama antara Pendidikan dan Industri. Beliau menyampaikan bahwa tidak bisa dipungkiri bahwa hasil akhir pendidikan akan bermuara kepada kesempatan mendapat pekerjaan yang diharapkan. Dalam hal ini maka pendidikan tidak bisa dipisahkan dengan Industri, maka disarankan bagi Pendidikan pada tahap awal untuk merapat / mendekat kepada Industri guna memperoleh informasi sesungguhnya seperti apa kompetensi lulusan yang mereka butuhkan.


Senada dengan hal tersebut Dirjen Diksi menambahkan bahwa sebetulnya permasalahan utama antra Pendidikan dan Industri adalah ‘Komunikasi’. Maka sebaiknya kedua belah pihak semestinya mulai menjalin komunikasi untuk diperoleh Kesepakatan dan diikuti Komitmen pengembangan / Inovasi hingga akhirnya munculah Trust. Dalam hal ini, terkait pernikahan antara Pendidikan dan Industri, Dirjen Diksi hadir untuk menjembatani sebagai ’Mak Comblang’. Semoga dengan kerjasama yang baik yang tercipta antara Pendidikan dan Industri mampu menghasilkan SDM yang unggul untuk menuju Indonesia maju.


(PIP/Humas PNM/ 19/05/2020).