Sambutan Dirjen Diksi pada Peluncuran Program SMK-D2 Fast Track di PT. INKA (Persero) Madiun

Madiun- Berikut sambutan Dirjen Diksi, Bapak Wikan Sakarinto, M.Sc., Ph.D pada saat peluncuran program SMK-Diploma Dua Jalur Cepat (fast track) dan peningkatan Prodi Program Diploma Tiga menjadi Sarjana Terapan Ditjen Diksi Kemendikbud serta peluncuran Manufacture Institute PT. INKA (Persero) Madiun, yang disampaikan secara daring (online) pada hari Jum'at tanggal 13 November 2020.

Mungkin anda pernah mendengar SMK 4 tahun? Atau SMK 4,5 tahun? Mungkin anda bertanya-tanya, untuk apa SMK dipanjang-panjangin sampai 4 tahun atau 4,5 tahun? SMK itu singkat saja, ringkas dan menghasilkan lulusan yang tidak mengecewakan industri dan dunia kerja (IDUKA). Dalam hal ini, SMK bukan diperpanjang masa pembelajarannya menjadi 4,5 tahun. Masa pembelajaran SMK tetap 3 tahun tetapi digabung dengan perguruan tinggi yaitu Diploma Dua (D2) selama 1,5 tahun, jadi bukan disebut dengan SMK 4,5 tahun, tetapi disebut dengan SMK-D2 Fast Track. Lulusan akan mendapatkan 2 ijazah yaitu Ijazah D2 dan Ijazah SMK.

Jika siswa SMK tetap ingin belajar selama 3 tahun dan langsung bekerja, tetap bisa, jadi memberikan kebebasan kepada siswa SMK untuk memilih. Jika siswa tersebut merasa cukup dengan belajar selama 3 tahun / 6 semester saja, lulus dan ingin bekerja, siswa tersebut bisa langsung bekerja dan tidak wajib untuk meneruskan SMK-D2 Fast Track hingga 1,5 tahun. Namun, jika siswa tersebut ingin meningkatkan kompetensinya, hingga lebih ahli dan lebih kompeten, tentunya akan mendapatkan penghargaan yang lebih tinggi dari industri berupa gaji dan income. Siswa tersebut bisa melanjutkan dengan waktu hanya 1,5 tahun / 3 semester saja, dimana dari waktu tersebut mayoritas program magang di industri (dual system), jadi tidak hanya bekerja di industri, tetapi bekerja sambil kuliah.

Setelah lulus dari SMK, hanya perlu kuliah selama 1 semester (semester 7), adapun 2 semester terakhir (semester 8 dan 9) berupa magang dan bersifat aprenticeship program atau disebut dual system yang menggabungkan antara bekerja sambil belajar. Pada saat mereka di pabrik/industri, mereka tetap bekerja dan mendapatkan gaji, mendapatkan kompetensi dan soft skill yang lebih tinggi lagi, namun mereka tetap harus mengikuti kelas/kuliah/training di industri yang disebut dengan dual system. Program SMK 4,5 tahun atau SMK-D2 Fast Track ini tidak wajib. Jika bidang/kompetensi yang dibutuhkan cukup dengan 3 tahun, tidak perlu ditambahkan opsi 1,5 tahun. Namun, jika dirasa perlu untuk menambah bekal yang lebih matang, seperti kompetensi, soft skill, attitude, integritas/pengalaman kerja, yang akan membuat industri lebih cocok lagi, silakan ditambah.

Untuk menjadi SMK-D2 Fast Track tersebut, syaratnya tidak mudah, syaratnya cukup challenging, tidak hanya (link & match) 2 pihak, tetapi pernikahan (link & match) segitiga, yaitu SMK, industri dan kampus vokasi baik berupa politeknik, universitas/institut yang memiliki prodi D2, karena kampus vokasi tersebut yang akan memberikan ijazah D2. Pernikahan segitiga ini wajib dilakukan untuk mengembangkan SMK-D2 Fast Track tersebut, dari awal duduk bersama, menyusun bersama dan menyetujui bersama mengenai kurikulum. Kurikulum dan kompetensi harus disusun dari awal. Salah satu contoh yang sudah diambil adalah kerjasama antara Politeknik Negeri Madiun (PNM), PT. INKA (Persero) Madiun dan SMK PGRI 1 Mejayan Kabupaten Madiun, yang dilakukan penandatanganan (MoU) setelah peluncuran program SMK-D2 Fast Track oleh Dirjen Diksi, Bapak Wikan Sakarinto, M.Sc., Ph.D.

Jika ada lulusan, industri sudah siap untuk menyerap, karena SDM yang dihasilkan sudah sesuai dengan pesanan, yakni lulusan SMK-D2 Fast Track tersebut. Persyaratan pernikahan segitiga tersebut adalah: 1. Kurikulum disusun dan disetujui bersama; 2. Sejak semester 1, tidak hanya guru SMK yang mengajar, tetapi juga dosen perguruan tinggi/ahli/expert/profesional/manager/GM dari industri. Sejak semester 1, industri sudah bisa melihat, siswa mana yang akan ditawari untuk magang di perusahaannya, dan mungkin saja, siswa tersebut diberikan penawaran-penawaran lain seperti pemberian beasiswa. Dari program tersebut, industri tidak akan mengalami kesulitan untuk mencari lulusan yang kompeten sesuai yang dibutuhkan, karena industri ikut terlibat secara langsung dalam penyusunan kurikulum dan proses pengajarannya.


(ris@pnm)