Volcanic Gas Online Monitoring System based on Internet of Things (VIOT) karya Dosen dan Alumni Jurusan Teknik

Madiun – Usaha dan kerja keras itu tidak sia-sia. Tim riset PNM pun lega dan bangga. Adalah Nur Asyik Hidayatullah, dosen Teknik Listrik; Dirvi Eko Juliando dosen Teknik Komputer Kontrol; Ardi Catur Kurniawan, alumni Teknik Komputer Kontrol PNM; Yohan Intan Kusuma, teknisi; dan Kholis Nur Faizin, dosen Mesin Otomotif. Dengan usaha kerasnya berhasil menciptakan alat mitigasi bencana.

Alat ini mampu memonitor gas beracun karbon monoksida (CO) atau karbondiokasida (CO2 ) di gunung berapi. Aplikasi berbasis internet ini dinamakan Volcanic Gas Online Monitoring System based on Internet of Things (VIOT). Dengan alat tersebut, aktivitas gas di gunung berapi bisa dipantau apakah berbahaya bagi makluk hidup atau tidak.

Gas CO dan CO2 itu tidak tampak dan tidak berbau. Sehingga sangat susah di deteksi oleh pancaindera karena menyatu dalam udara. Berbeda dengan gas sulfur yang masih ada baunya. “Apabila Gas CO/CO2 tersebut dihirup makluk hidup maka bisa mengakibatkan kematian sebagaimana yang terjadi pada tragedi sinila di gunung dieng wonosobo pada tahun 1979. Total 149 orang tewas waktu itu. Kami tidak ingin peristiwa itu terulang lagi” kata Ketua Tim VIOT PNM Nur Asyik Hidayatullah.

Alat buatan tim riset tersebut memakai jaringan wireless sensor network (WSN) atau jaringan sensor nirkabel yang memanfaatkan energi surya. Tim riset PNM dibantu oleh tim Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Indonesia telah menguji dan memasang alat monitoring tersebut di depan kawah Gunung Kelud, Kediri, pada Sabtu 3 Februari 2018 lalu. Meski membawa piranti seberat lebih dari 10 kilogram di medan yang terjal, dengan kondisi hujan dan cuaca berkabut dengan jarak pandang 10 sampai 15 meter,alat tersebut telah terpasang dan mampu mengirimkan data tingkat konsentrasi gas secara langsung dan terus menerus.

Sesuai hasil monitoring, untuk Gunung Kelud Kediri saat ini masih dalam status aman, karena konsentrasi gas beracun di kawah masih berada di bawah level 400 part per millions (ppm). Namun jika level gas sudah di atas ambang batas tersebut maka akan sangat berbahaya untuk makluk hidup.

VIOT mampu menginformasikan data secara real time dan mendeteksi keadaan lingkungan disekitarnya. Yakni aktivitas gas di gunung berapi khususnya keberadaan gas beracun CO/CO2. Kemudian dikomunikasikan melalui internet melalui aplikasi yang bisa diakses oleh masyarakat luas kapanpun dan dimanapun. Rencananya alat ini akan kami kembangkan lebih lanjut tingkat keandalannya untuk menguji kadar gas beracun di Gunung Dieng atau Merapi. “Agar masyarakat dan wisatawan aman dalam beraktivitas baik bertani maupun pendakian”, imbuh Nur Asyik yang menyelesaikan beasiswa S-2 dari Pemerintah Australia di Victoria Univeristy Melbourne tahun 2009.

Selain sensor gas, dosen teknik listrik menyebutkan VIOT juga bisa tambahkan sensor suhu, sensor seismik dan beberapa sensor lainnya sesuai dengan kebutuhan PVMGB. Alat ini sangat bermanfaat untuk sistem peringatan dini dan mitigasi dampak dari bencana gunung berapi, khususnya mengetahui status gas beracun.

Masyarakat bisa mengakses situs monitoring tersebut di http://viot.research.pnm.ac.id/ untuk mengetahui status terkini kadar gas beracun di gunung kelud apakah levelnya dalam status aman atau bahaya. Apabila statusnya aman maka warna node 1 & node 2 akan berwarna hijau, namun sebaliknya, jika statusnya bahaya maka warna node 1 & node 2 akan berubah menjadi merah. Melalui node 1 dan node 2, VIOT juga mampu menyajikan data log kadar gas CO baik harian, mingguan dan tahunan dalam bentuk tabel dan grafik.

Riset yang dilakukan Nur Asyik cs ini didanai oleh Pemerintah Australia melalui Alumni Grant Scheme (Skema Dana Hibah Alumni) yang diadministrasikan olehAustralia Award in Indonesia (AAI). Salah satu tujuan dari skema hibah alumni adalah untuk mendukung alumni menambah dan memanfaatkan pengetahuan dan keahliannya demi kepentingan sosial masyarakat banyak. “Proyek hibah ini diberikan kepada alumni yang pernah studi di Australia untuk melaksanakan proyek spesifik sesuai dengan tujuan dari sekema hibah alumni. AAI memberikan pagu dana hibah sampai dengan AUD 10.000 (sekitar 100 juta rupiah). Selain itu, AAI juga memberikan beasiswa untuk masyarakat Indonesia untuk melanjutkan jenjang pendidikan S2 dan S3 serta beasiswa short course (studi singkat) ke Australia setiap tahunnya.” Pungkas Nur Asyik yang baru saja pulang dari short course di Southern Alberta Institute of Technology (SAIT) Calgary, Canada (erv/aan/jp/adv/upti).